LAHEI BARAT, Tambunbungai.com – Kebutuhan air bersih, relokasi puskesmas, pengadaan ambulans air, hingga pembangunan infrastruktur menjadi sejumlah persoalan yang disampaikan jajaran Kecamatan Lahei Barat kepada Pemerintah Kabupaten Barito Utara dalam audiensi dan silaturahmi bersama kepala daerah.
Pertemuan yang berlangsung di Aula Serbaguna Kecamatan Lahei Barat, Rabu (9/9/2026), dihadiri Bupati Barito Utara H Shalahuddin bersama Wakil Bupati Felix Sonadie Y. Tingan, serta Plt Camat Lahei Barat Helen Perdana dan jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) kecamatan.
Audiensi tersebut menjadi bagian dari kunjungan kerja pemerintah daerah untuk menyerap aspirasi sekaligus mengetahui secara langsung kondisi dan kebutuhan masyarakat di tingkat kecamatan dan desa.
Bupati H Shalahuddin mengatakan, jajaran kecamatan dan pemerintah desa memiliki pemahaman yang lebih dekat terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Karena itu, berbagai kendala di lapangan perlu disampaikan agar pemerintah kabupaten dapat mempertimbangkan langkah penanganannya.
“Kami ingin melihat apa yang menjadi permasalahan di desa atau di kecamatan yang ada di Lahei Barat. Pihak kecamatan tentu lebih mengetahuinya, sehingga hal-hal tersebut dapat disampaikan kepada kami,” ujar Shalahuddin.
Ia menegaskan, pemerintah harus hadir ketika masyarakat menghadapi kesulitan. Camat dan kepala desa, menurutnya, memiliki peran penting sebagai penghubung antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam memastikan pelayanan berjalan dengan baik.
“Kita ingin setiap ada kesusahan masyarakat, setiap ada permasalahan masyarakat, pemerintah harus hadir,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Plt Camat Lahei Barat Helen Perdana menyampaikan sejumlah kebutuhan yang masih memerlukan perhatian pemerintah daerah. Persoalan tersebut mencakup ketersediaan air bersih, jaringan telekomunikasi, kelistrikan, pelayanan kesehatan, infrastruktur jalan, serta kebutuhan aparatur kecamatan.
Di sektor air bersih, Helen menjelaskan, sejumlah desa seperti Penaululu, Hulu Hilir, Teluk Malewai, dan Haparju masih mengandalkan sumur bor yang dibangun menggunakan anggaran desa, baik melalui Alokasi Dana Desa (ADD) maupun Dana Desa (DD).
“Untuk air bersih, beberapa desa masih mengandalkan sumur bor yang dibangun melalui anggaran desa. Ini menjadi salah satu kebutuhan yang terus kami perhatikan,” kata Helen.
Sementara itu, jaringan telekomunikasi Telkomsel di wilayah Lahei Barat secara umum dinilai cukup baik. Namun, layanan tersebut masih kerap mengalami gangguan ketika terjadi pemadaman listrik.
Untuk sektor kelistrikan, Helen menyampaikan bahwa wilayah dari Karamuan hingga Loe Hilir telah teraliri listrik dengan layanan selama 24 jam.
Adapun di bidang kesehatan, salah satu usulan yang disampaikan adalah relokasi Puskesmas Lahei Barat. Lokasi fasilitas kesehatan tersebut dinilai rawan banjir dan termasuk bangunan yang lebih awal terdampak genangan ketika air meluap.
Selain relokasi, pihak kecamatan mengusulkan pengadaan ambulans air untuk menjaga akses pelayanan kesehatan, terutama saat banjir menghambat perjalanan melalui jalur darat.
“Ketika banjir, ada sekitar delapan titik yang tidak bisa dilalui kendaraan roda empat maupun sepeda motor. Karena itu, kami mengusulkan ambulans air agar pelayanan kepada masyarakat tetap bisa dilakukan,” jelas Helen.
Menurutnya, ambulans air dapat dimanfaatkan untuk membawa pasien melalui jalur sungai hingga Desa Ninga Hilir. Selanjutnya, perjalanan menuju fasilitas kesehatan dapat diteruskan menggunakan kendaraan darat.
Terkait rencana pemindahan puskesmas, pihak kecamatan telah menyiapkan beberapa alternatif lokasi, yakni di seberang Kantor Kecamatan Lahei Barat, kawasan bagian hulu, serta area jalan bukaan baru.
Selain persoalan pelayanan dasar, pembangunan infrastruktur juga menjadi pembahasan dalam audiensi tersebut. Helen melaporkan, pembangunan jalan bukaan baru menuju Desa Karamuan telah terealisasi sekitar 120 meter pada tahun ini. Pihak kecamatan berharap pembangunan jalan tersebut dapat dilanjutkan.
“Untuk infrastruktur, salah satunya jalan bukaan baru menuju Karamuan. Tahun ini sudah dibangun sekitar 120 meter dan tentunya kami berharap dapat terus dilanjutkan,” ujarnya.
Kecamatan Lahei Barat juga memiliki alternatif lahan seluas sekitar 2,5 hektare yang dipertimbangkan untuk rencana pembangunan sport center.
Di sisi lain, Helen turut melaporkan kondisi sumber daya aparatur di lingkungan kecamatan. Saat ini terdapat sekitar 23 orang aparatur, dengan dua posisi kepala seksi yang masih kosong, yakni Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) serta Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban (Trantib).
Kekosongan jabatan Kasi PMD terjadi setelah pejabat sebelumnya memperoleh promosi menjadi Sekretaris Kecamatan. Sementara itu, posisi Kasi Trantib kosong setelah pejabat sebelumnya memasuki masa pensiun.
Audiensi tersebut diharapkan memperkuat koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Barito Utara dan jajaran Kecamatan Lahei Barat. Berbagai aspirasi yang disampaikan menjadi bahan bagi pemerintah daerah untuk menelaah kebutuhan prioritas dan menindaklanjutinya sesuai kewenangan serta kemampuan anggaran.(red)

