PALANGKA RAYA. Tambunbungai.com – Gubernur Kalimantan Tengah H. Sugianto Sabran menegaskan bahwa sesuai dengan amanat Undang-Undang dan Skema Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat (FPKM) mewajibkan perusahaan memfasilitasi pembangunan kebun masyarakat 20% dari luas lahan.
“Penting bagi perusahaan untuk memberikan plasma 20% kepada masyarakat, hal ini supaya investasi bagi pengusaha perkebunan di Kalimantan Tengah aman dan nyaman, sehingga tidak akan terjadi lagi konflik antara perusahaan dan masyarakat sekitar kebun” tegas Gubernur Sugianto Sabran dalam pidatonya saat membuka secara resmi Forum Diskusi dengan tema Prospek Perkebunan Sawit Pasca Undang-Undang Cipta Kerja (UUCK), yang berlangsung di Swiss Bel Hotel Danum Palangka Raya, Senin, (5/2/24).

Dalam sambutannya Gubernur Kalteng Sugianto Sabran mengatakan, berdasarkan data jumlah dan luas perizinan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah (total 295 unit dengan luas 3,272 juta Ha dan sudah operasional 197 unit seluas 2,267 juta Ha). “Kalimantan Tengah saat ini menempati peringkat ke-3 terluas perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Jumlah tersebut belum termasuk dengan sawit rakyat. Demikian pula halnya dengan produksi CPO yang mencapai 6,937 juta ton pertahun,” ungkapnya.
Gubenrur Sugianto Sabran optimistis dan mengapresiasi adanya iklim investasi sawit yang baik, dan mendorong agar hasil produksinya berdampak kepada masyarakat sekitar, antara lain penanganan kesehatan, penyerapan tenaga kerja, pendidikan, infrastruktur hingga peningkatan perekonomian dan kesejahteraan. ‘’Saya harapkan forum diskusi ini akan menjadi wadah yang strategis bagi para pemangku kepentingan untuk mencari solusi bersama pemerintah dalam memajukan sektor perkebunan kelapa sawit terutama di Kalimantan Tengah.
Sebelumnya Sekjen GAPKI Pusat Hadi Sugeng mengatakan, forum diskusi ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan kelapa sawit yang terjadi di Kalteng, tentunya dengan dibantu oleh pihak aparat keamanan dan Pemprov Kalteng.
“Kalimantan Tengah memiliki lahan sawit terluas ketiga setelah Riau dan Kalimantan Barat. Produksi dan probabilitas kelapa sawit 5 tahun terakhir turun. Adanya diskusi ini juga diharapkan dapat menghasilkan solusi dan rekomendasi untuk memajukan sektor perkebunan,” pungkas nya. (YZ)