Ekonomi RI Diprediksi Tumbuh 5,2% di Kuartal I-2026, Konflik AS-Iran Jadi Penahan

Jakarta, tambunbungai.com – Para ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,2%. Angka ini berada di kisaran 5,1% hingga 5,2%. Konsumsi rumah tangga selama Ramadan dan Idulfitri masih menjadi pendorong utama. Namun eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran membatasi ruang ekspansi yang lebih tinggi.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan pandangannya kepada Bloomberg Technoz pada Kamis (26/3/2026). Ia menilai tensi di Timur Tengah mulai menekan perekonomian domestik sejak Maret 2026.

“Ruang kenaikan ke level yang jauh lebih tinggi mulai tertahan oleh memburuknya kondisi global pada Maret 2026,” ujar Josua. “Akibat perang di Timur Tengah, harga energi naik, pasar keuangan terguncang, dan nilai tukar tertekan.”

Konsumsi Domestik Jadi Penopang Utama

Josua melihat fondasi pertumbuhan kuartal pertama cukup solid. Faktor musiman menjadi katalis utama. Ramadan, Idulfitri, tunjangan hari raya (THR), dan bantuan sosial (bansos) mendorong belanja masyarakat.

Diskon tarif transportasi dan aktivitas mudik juga menggerakkan sektor terkait. Sektor transportasi, perdagangan, serta industri makanan dan minuman mendapat dampak positif. Konsumsi rumah tangga pun tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

Hambatan Investasi dan Ekspor Neto

Meski konsumsi kuat, ada hambatan yang perlu dicermati. Josua mengidentifikasi perlambatan pembentukan modal tetap bruto (PMTB). Investasi melambat. Net-ekspor juga terkendala.

Konflik AS-Iran menjadi pemicu utama perlambatan tersebut. Ketegangan geopolitik menekan nilai tukar rupiah. Pasar keuangan pun mengalami volatilitas. Harga energi melonjak, membebani biaya produksi dan daya saing ekspor nasional.

Dengan kombinasi antara pendorong domestik yang kuat dan hambatan eksternal yang signifikan, pelaku pasar dan pembuat kebijakan akan terus mencermati dinamika nilai tukar serta stabilitas harga energi hingga akhir kuartal pertama ini. (tb)