PALANGKA RAYA. Tambunbungai.com — Kondisi drainase yang tertutup di sejumlah bangunan kini menjadi pemicu potensi banjir yang mengancam beberapa wilayah di Kota Palangka Raya. Hal ini tentu akan berdampak negatif terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat dan ekosistem.
Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palangka Raya, HM. Khemal Nasery menyoroti kesadaran diri dari masyarakat. ‘’Kondisi drainase yang tertutup bangunan itu merupakan hal yang sangat memprihatinkan, padahal, itu sudah tertuang dalam peraturan SGH,’’ ujar Khemal Nasery.
Khemal menjelaskan, minimal ada jarak untuk membangun bangunan dari area badan jalan. “Seharusnya masyarakat menerapkan aturan SGH tersebut. Memperhatikan aturan dalam membangun bangunan itu harus berapa meter dari badan jalan,” katanya Senin (11/12/23).
Susahnya memberikan kesadaran kepada masyarakat menjadi faktor utama dalam hal tersebut, memperhatikan hal kecil saja masih banyak masyarakat yang lalai, seperti tidak membuang sampah di parit maupun drainase padahal hal kecil itu saja masih susah diterapkan kepada masyarakat.
“Nanti kalau hujan lebat lalu banjir, yang disalahkan selalu saja Pemko Palangka Raya. Kan Pemko sudah membangun drainase, jalan-jalan. Namun, setelah dibangun, masyarakat nya tidak memelihara,” tegasnya.
Maka dari itu, legislator Partai Golkar ini meminta kepada masyarakat untuk peduli terhadap lingkungannya. Jangan sedikit-sedikit berharap pemko yang membersihkannya. Sebab hal tersebut harus melalui kesadaran dari masyarakat. “Kesadaran masyarakat dibangun, dipelihara. Apakah satu minggu sekali selokan ataupun drainase itu dibersihkan. Supaya air tetap mengalir,” ujarnya.
Apabila masyarakat tidak menyadari akan hal tersebut. Itu akan terjadi sedimentasi, pedangkalan. Akibatnya air tidak mengalir secara lancar dan akhirnya, air akan meluber keluar. Maka dari itulah, sebab banyak jalan jalan di Kota Palangka Raya itu tergenang air. “Coba bayangkan, di era kepemimpinan Wali Kota Palangka Raya, Pak Fairid Naparin. Tepatnya tahun 2022. Drainase di Jalan Temanggung Tulung itu dinormalisasikan. Hujan lebat empat hingga lima jam, itu tidak banjir. Lah kalau sekarang? Mulai banjir lagi. Karena masyarakat nya tidak sadar dan tidak merawat,” jelasnya
Khemal meminta pentingnya membangun kesadaran bersama. Demi tidak memunculkan asumsi yang buruk kepada pemerintah. “Kalau hujan lebat, nanti teriak teriak lagi. Mana kinerja pemerintah. Padahal itu akibat ketidaksadaran masyarakat itu sendiri,” tutupnya.(nis)