PALANGKA RAYA. Tambunbungai.com – Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR), Dr Muhammad Yusuf mengatakan bahwa pihaknya siap bersinergi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) dalam hal ini Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Kalteng dan siap berkolaborasi sukseskan program-program Pemprov Kalteng. Pernyataan itu ia ungkapkan saat melaksanakan kunjungan ke Disbun Kalteng.
“Jika memang kami dibutuhkan untuk percepatan plasma di Kalteng, kami siap. Apa lagi terkait pendidikan bagi anak-anak karyawan dan karyawan di suatu perusahaan,” kata Dr Yusuf di Palangka Raya, Jum’at (27/1).
Yusuf mengungkapkan bahwa UMPR memiliki program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang sudah mendapatkan sertifikat dari Kementerian Pendidikan, untuk semua program studi di S1 bahkan S2.
“Ini bisa memudahkan, seperti calon mahasiswa dari karyawan perusahaan yang mempunyai ijazah SMA, dibeasiswai oleh tempat ia bekerja, lalu aktivitasnya apapun di sana, dan itu akan dihargai sebagai kegiatan akademik. Untuk itu, bisa saja seseorang itu yang lulus SMA dihargai 5 semester, maka dia butuh kuliah 2 semester atau 3 semester lagi untuk menyelesaikan kuliah S1 nya,” jelas Yusuf.
Ia juga menjelaskan bahwa ketika karyawan perusahaan mengikuti program RPL, tidak perlu khawatir karena tidak perlu meninggalkan pekerjaannya, karena UMPR akan mengirimkan dosen dan selebihnya melalui aplikasi zoom. Berbeda halnya dengan prodi kesehatan, diwajibkan datang sekali ke UMPR untuk praktik di Laboratorium.
“Jadi, calon mahasiswa dari perusahaan menjalani aktivitas perkuliahan itu tidak harus meninggalkan pekerjaannya, dia tetap di sana, bahkan nanti kampus yang akan membawa dosen ke sana, dan aktivitas lainnya melalui tekhnologi zoom. Bagi yang bidang kesehatan, paling sekali datang ke UMPR untuk praktik di Laboratorium, seperti itu nantinya,” pungkasnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Disbun Provinsi Kalteng, H. Rizky R Badjuri bahwa perkebunan merupakan komoditas paling luas 85 persen di Kalteng dengan ijin resmi sebanyak 300, dan 195 yang sudah operasional panen.
Rizky meminta kepada Rektor baru itu agar bisa memberikan pendampingan akademis kepada pihaknya yang kini sedang getol memperjuangkan kewajiban plasma perusahaan sawit.
“Nah keinginan besar bapak Gubernur Sugianto Sabran saat ini adalah memperjuangkan kewajiban 20 persen plasma perusahaan sawit untuk masyarakat, dan tentunya tidaklah mudah,” kata Rizky.
Sejalan keinginan tersebut, lahan perkebunan sudah tidak ada. Sehingga pemerintah mendorong untuk kewajiban plasma berbentuk kemitraan yang bisa dikembangkan, seperti pemenuhan kesehatan masyarakat, dan beasiswa pendidikan.
“Ini sedang kami dorong untuk bisa direalisasikan pihak perusahaan, agar tidak ada lagi kesenjangan antara masyarakat asli daerah dengan pendatang yang bekerja di perusahaan sawit. Agar ini terwujud, kami sangat membutuhkan peran akademisi seperti dalam hal pendampingan, atau pendidikan,” pungkasnya.(tb4)